New Videos from Youtube

Cerita Seks Bergambar | Menikmati Keperawanan Anak SMP

Menikmati Keperawan Anak SMP - Pembaca Cerita Dewasa perkenalkan namaku Neny ,aku punya kawan yang bernama Windy, kami bersahabat sangat akrab. boleh dikatakan aku sahabat karibnya baik duka maupun senang kami selalu bersama-sama. 
Setelah pulang dari berlibur ke rumah tanteku di Bogor yang mana Windy pergi dengan kekasihnya yang sedikit agak berumur .kalau tidak salah tafsir mungkin usianya sekitar 39 tahun, kami mulai masuk sekolah dan sudah 2 minggu peristiwa itu berlalu. 


Pada suatu saat sewaktu istirahat saya berdua Windy makan bakso, setelah selesai kami ber bincang-bincang, Windy menceritakan sewaktu pergi ke Bandung bersama kekasihnya yang om- om itu.
Semua diceritakan kepadaku, baru sekali itulah katanya Windy merasakan kenikmatan yang seakan-akan Windy pergi ke surga, berapa kali windy melakukan dengan kekasihnya diceritakan semuanya kepadaku. 
Mendengar cerita Windy aku betul2 tertarik bahkan terangsang akan pengalaman pertama Windy, yang katanya terasa sampai ke ubun2, aku diam2 punya rasa keinginan untuk kenal lebih dekat dengan yang dimaksud kekasih Windy itu.
saya betul betul terpengaruh oleh cerita Windy , pakah betul sampai keubun ubun nikmatnya???????
Walau umurku baru 15 tahun sama dengan umur Windy dan badanku yang mungil dibalut dengan kulit putih seperti Windy dan tetekku yang baru nyembul tumbuh, aku sudah sangat ingin mencoba seperti apa yang pernah dialami Windy 


hingga....Pada suatu saat hari sabtu sore aku pergi ke Mall disuruh ibuku beli minyak goreng dan mie....., kebetulan aku ketemu dengan kekasih Windy yang sedang belanja juga, aku masih ingat betul walau kami baru ketemu sepintas. 
Aku menyapa dengan sopan, "Sore Oom, belanja Oom" sapaku sopan, dijawab dengan lembut" iya, siapa ya?" jawabnya, "saya temen Windy Oom, lupa ya, yang diantar ke Bogor, kerumah tante" jawabku, "Ooh, ya Oom ingat sekarang, sedang belanja juga?" 
"ya, Oom, disuruh ibu" jawabku, dan kami sambil jalan ngobrol biasa-biasa saja, aku pikir bagaimana caranya agar aku bisa sama2 bapak ini, lalu aku bilang "Oom, tinggal dimana?" lalu dijawabnya disuatu komplek didaerahku. 
Lalu aku pancing " Boleh Oom, Neny main kerumah Oom " tanyaku, " Boleh2, kapan mau kerumah Oom, silakan" jawabnya, perasaanku betul2 gembira nah, berhasil aku mendekatinya, lalu aku bilang " Besok boleh Oom ???" 
" Boleh, jam berapa, dirumah Oom sepi lho, tante sedang ke Bandung, jadi Oom tidak ada apa2, tapi nanti Oom beli kue saja buat besok", dan kamipun berpisah sebab aku keburu-buru ditunggu ibuku. 
Besoknya hari Minggu pagi2 kira2 jam 09.00 aku berangkat kerumah kekasih Windy, tak berapa lama akupun sampai dikomplek yang disebutkan, lalu aku tanya satpam komplex dimana alamat yang dimaksud.........ahirnya ketemu juga.... 

Akupun masuk kehalaman rumahnya dan aku pencet bell, tidak lama keluar kekasih windy.... dan dengan sapa yang halus menyapaku " selamat pagi, Neny, sendirian ya " sapanya, " ya oom ", lalu aku dipersilahkan duduk dan Bapak pergi ke belakang. 
Tak berapa lama om Idola keluar membawa minuman hangat dan kue yang kemarin dibelinya di Mall, " silahkan diminum dan dicicip kuenya " aku menganggukkan kepala saja sebab perasaanku sudah betul2 ngebet ingin merasakan apa yang diceritakan Windy. 
Kami duduk bincang2 layaknya bapak dengan anak, lalu aku geser dudukku, " Boleh Neny duduk dekat Oom " pintaku, " Boleh silahkan ", waduh sseerrr rasanya, aku duduk disebelah kirinya dan aku baca majalah Tempo yang ada dimeja. 
tapi kemudian tidak lama kemudian aku ditawarin majalah yang ....yaaa...ampun gambarnya berisikan gambar yang menampilkan hubungan suami...isteri......sekilas kulihat nama majalah itu tertulis didepannya playboy.....,aku benar benar terangsang.............badanku gemetar....menahan perasaaan yang baru kali ini aku rasakan..........rupanya OM agus begitu namanya kuketahui setelah kutanyakan pada beliau.....telah mengetahui keadaanku.......ia merapatkan tubuhnya kesampingku sambil melingkarkan tangannya kepundakku.......tak lama kemudian jaritangannya merabah kupingku......aku kian bergetar.............om Agus kian menggeserkan duduknya, lantas ia merebahkan kepalaku dipangkuannya........... 


Sambil tiduran aku tetap membolak balik majalah playboy itu.......mataku telah nanar dikuasai birahi remajaku........aku menggeserkan kepalaku dipangkuandipangkuannya karena terasa ada benda keras yang mengganjal belakang leherku....., kalau aku miringkan persis hidungku kena selangkangannya yang menonjol itu........om Agus diam sambil baca koran. 
Lama2 aku beranikan diriku, pura2 aku tertidur lalu kumiringkan badanku tepat aku menindih......tonjolan itu.........dan dengan menggeser kepalaku sedikit kebelakang maka nampakklah benda yang menonjol dibalik celana pendek om agus.............tanganku kuletakkan diatas tonjolan itu dan kudengar om Agus menhela nafas panjang.....ia tergelinjang .....ketika tonjolan itu ku gesek gesek dengan lenganku......gilakah aku ????pikirku...... 
lalu..... dengan tenang dielusnya tanganku dan makin dibimbingnya menuju tonjolan tadi seakan menyuruhku untuk meremasnya............. 
rupanya tonjolan tadi namanya adalah Kontol........... 
Tangan Oom menggosok-gosok lengan atasku aku sudah betul2 napsu, aku makin kuat pegang kontol Oom, tiba2 aku diangkat dipopongnya dibawa masuk ke kamarnya, sampai dikamar dibukanya bajuku dan minisetku, lalu rokku dilepasnya tinggal CD saja. 
Aku ditidurkan ditempat tidur yang empuk, kemudian aku diciuminya dengan lembut, aduuhh maakk aku semakin terangsang, digosoknya toketku dengan tangannya yang besar dan pentilku yang baru segede kedele diisapnya, adduuuhhhhkk bener kata Windy enaknya. 
Pelan2 ditariknya CD ku lalu digosoknya memekku dengan jarinya pas kena itilku yang baru sebesar biji kedele, terasa basah memekku keluar cairan, aku meraba mencari kontol Oom, yang masih pakai celana pendek, ...
wwuuuuiii besarnya bukan main. 
Aku berpikir apa bisa masuk ke memekku kontol sebesar itu, ada rasa ngeri juga tapi aku abaikan aku sudah betul2 ngebet, eeehhhh diisapnya memekku dan dijilatinya, aduhhhh ennnuuuaaaakkkkk Ooooommmmm, terussssss pintaku, sambil dijilati memekku tangan Oom pegang toketku. 
Aku sampai menggelinjang pantatku terangkat saking enaknya, Oooommmmm teeeerrruuuussss Oooooommmm, kembali aku diciuminya leherku toketku dicium, lalu diisapnya, ketekku dicium pangkal toketku dicium lalu diisapnya, kembali pentilku diisapnya adduuuhhh rasanya sampai ke ubun-ubun. 
Aku diangkat lagi lalu dipangkunya sambil diisap toketku aduh aku betul2 ke surga Windy betul katamu, aku merasakan sekarang, eeehhhh kontolnya di gosok2kan dimemekku aduuhh mmaaakkk, eeeuuunnaaakk Oommmmm rintihku, ujung jarinya dimasukkan ke lubang memekku aduh sakit Oomm, aku dicium lagi. 
"Neny engkau pingin merasakan lebih enak, ya" tanyanya " Iiiyyyaaaa OOoooommmm " jawabku, " Neny sedikit sakit ya nanti lama-lama hilang sakitnya " kata Oom " terserah Oom , neny ingin merasakan kenikmatan Oom " kataku, pelan2 dimasukkan ujung kontolnya, aku merintih kesakitan. 
" Pelan Oom, sakiitt " rintihku, digosoknya lagi dan didorongnya lagi, hal itu dilakukan berkali-kali dan sakitnya waktu kontolnya didorong, tapi hilang rasa sakitnya kalau kontol Oom di gosok2kan di bibir memekku yang tipis dan tahu2 ssrrreeetttt, szssrreeeettt, "sakit Oom ' teriakku, masuklah kontolnya ke memekku walau hanya sedikit. 
Aku diciumnya lagi digigitnya toketku, diisapnya pentilku, sambil badanku digosok-gosok paka tangannya, aduuuhhhh Oom saaakkiiittt rintihku, lalu diciumnya lagi, eh lama2 hilang rasa sakitnya, aku mulai sedikit merasakan enaknya, diangkatnya badanku lalu diturunkannya lagi, sampai berkali-kali. 
Aduh rasanya semakin enak, tahu2 aku merasakan nikmat yang belum pernah aku rasakan, sampai aku gigit dada Oom, aaaddduuuuuhhhh, aaaaauuuuggghhhhh oooooommmm, aaaauuuggghhhh, oooommmmm, lalu aku lemas tapi masi dipangkuannya dan kontol Oom masih didalam memekku, aku menyaksikan percikan darah perawan ku membasahi kain sprei tempat tidur om agus.....dan sebagian belepotan dipangkal kontol om dan juga ada nempel di pahanya............ohhhh aku gak perawan lagi.........tapi peduli amat.......nikmatnya mengalahkan semua pikiranku tentang arti sebuah keperawanan.......... 
Mulai lagi pentilku diisapnya dan diciumminya lagi, mulai aku terangsang lagi, aku coba menggeser dudukku dipangkuan oom tapi kontol Oom seakan-akan lengket dengan memekku, lalu aku digendongnya masih dalam posisi kontol dimemekku dan aku ditidurkan ditempat tidur Oom, aduhh Oommm teeerrrruuusssss Ooommm. 
Pantat Oom dinaik turunkan aku menggelinjang, kepalaku goyang kiri goyang kanan saking enaknya dan Aaaauuuuuggghhhh aaaaacccchhhh uuuuugggghhh Oooooommmm eeennnaaaakkk pekikku, gila betul2 enak rasanya aku sudah entah berapa kali orgasme alias keluar, lalu pelan2 oom naikturunkan pantatnya. 
Eeehh tahu2 Oom menggerakkan lagi pantatnya dan aaaadduuuhhh Ooooooommmmmm pekikku Neny kepengen pipisssss ommmmm......pipis aja kata om Agus....... Ooooooommmmm dan cccrreetttt, creeeettttt terasa panas ......ada yang mengalir dari dalam.....tapi bukan pipisss....badanku bergetar.....kuat sekali ....tanganku mencengkram bahu om agusss...ahhhhh....dunia ini putih semua.....enak yang tak dapat lagi diucapkan dengan katakata................ rupanya Oom juga pipisss.... dan disemprotkan didalam memekku , aduh enaknya sampai mataku berat susah dibuka rasanya. 
Aku terbangun ternyata aku tertidur diatas Oom, dan kontol Oom masih didalam memekku, pentilkuku digigit dan dicium lagi sampai mataku terasa terbalik saking enaknya dan tahu2 sret kontol Oom dicabut dari memekku lalu aku ditelentangkan kakiku dikangkangkan dan aduh rasanya rambutku terasa mau copot memekku dijilati lagi. 
Lama memekku dijilati dan itilku digigit-gigit aku kali ini betul2 terangsang berat, aku tarik kontol Oom aku bimbing kelubang memekku dan cret, cret oom tekan langsung masuk kontolnya lalu diturun naikkan, aku betul2 me layang2 disurga rasanya dan aku tarik dada oom kugigit aku pipisssss lagi.... 
oooohhhhh ommmmmmm enakkkkkk ommmmmmmmmm. 
Oom masih terus memainkan kontolnya yang masuk dimemekku, kali ini aku gantungkan diriku dibadan oom dan ccrreeettt, ccrrreeetttt uuugggghhhh, aaaaccchhhh aaaadddduuuuuhhhhh ooooooommmmmm, didalam memekku terasa hangat lagi kena semprot air pipis putih.....dari oom.
Entah sampai jam berapa hari itu, kami sampai lupa makan siang tahu2 sudah jam 17.00 sore, aku tidur didekap Oom, kira2 jam 19.00 aku dibagunkan disuruh mandi lalu makan dan diantarkan pulang, sampai dirumah jam 20.00 aku bilang dari rumah Windy belajar, makasih Oom 
Nah sekian dulu pengalaman pertamaku dengan om Agus........kekasih sahabatku.

Sekretaris Cantik “Dipakai” Oleh Sang Boss

Tidak seperti biasa Aku pergi ke kantor jam 6.30 wib, karena hari ini istriku mau ke lab. memeriksakan kandungannya yang sudah berumur 7 bulan. Sesampainya di rumah sakit aku langsung cabut menuju kantorku dan aku perhatikan masih sepi sekali tetapi pintu gerbang sudah terbuka dan hanya ada pak Paimo pembersih kantorku yang masih sibuk dengan kerjaannya di depan perusahaan kami.

Dan aku segera memarkirkan kendaraanku dan langsung cabut keruangan kantor dan selanjutnya bersih-bersih kertas yang sudah tidak terpakai dan mulai menghidupkan komputerku karena aku harus menyerahkan data pada bos yang kemarin dia minta. Sambil menunggu komputer menyala aku sempatkan untuk membuat teh karena tadi di rumah belum sempat sarapan karena istri juga cepat-cepat mau periksa kandungan bayi kami.

Setelah komputer aktif aku segera buka data kemarin dan sambil memeriksa aku sambil minum teh biar perut merasa hangat. Setelah aku periksa komplit lalu aku setting untuk saya cetak dan segera laporkan pada bos karena mungkin sudah di tunggu. Setelah aku selesai cetak data aku tempatkan di amplop dan segera aku bawa ke hadapan bos tetapi agak di samping kantor bos aku pelankan suara karena aku mendengar suara yang mencurigakan dan aku sambil berjingkat memperjelas suara yang aku dengar tadi ternyata memang arahnya dari dalam kantor bos aku, dan aku mulai mencari tempat untuk bisa melihat ke dalam karena rasa penasaranku dengan siapa bos melakukannya karena memang bos orang yang pekerja keras maka tidak ada yang menaruh curiga kalau bos selalu berangkat pagi sekali dan pulang paling buncit sendiri.

Aku menemukan tempat yang pas untuk mengintip ke dalam yaitu kursi yang ada didepan kantor bos yang cukup tinggi dan bisa sampai ke lubang udara yang cukup strategis untuk melihat ke dalam tanpa di ketahui sama bos, dan aku mulai naik ke kursi itu dengan sangat hati-hati dengan jantung yang berdebar-debar antara takut dan penasaran. Alangkah terkejutnya aku karena ternyata di dalam si bos dengan sekretarisnya baru buka-buka dan berciuman sambil bergulat tidak aturan.

Jantung aku semakin berdebar karena melihat adegan ini, si bos mulai membuka baju si nita sekretarisnya yang memang aduhai itu dan aku lihat si nita cuma membiarkan saja dan langsung kelihatan BH nya yang putih berendra agak oren dan si bos mulai memasukkan jemarinya ke dalam BH si nita dan si nita mulai terpejam matanya sepertinya menikmati remasan jemari si bos dan si bos semakin berani dengan melorotkan BH si anita dan mulai mengulum puting susu si anita yang memang bagus itu dan si nita mulai mendesah dan mengelinjang keenakan ah………………..emh………….dan si bos semakin brutal saja melumat punting susu si nita, sampai-sampai si nita mengeluarkan suara yang cukup keras aku dengar ah…………..ah……..dan sampai aku dengar desisan nafasnya yang terasa berat ah……………………………ah……………..

Si bos mulai nggak tahan dan mulai melorotkan celananya sendiri dan tinggal celana dalamnya aja dan si bos menarik tangan si nita untuk memeganginya dan mulai melorotkan celana dalam si bos, nita mulai menunduk dan aduh aku jadi tidak tahan karena aku rasakan batang adik kecilku mulai merangsek ke atas. Bagaimana tidak si nita mulai memasukkan burung si bos ke dalam mulutnya aduh nggak tahan aku, dan aku perhatikan si bos mulai keenakan ough………………..ehm………….ough………….sambil meremas remas rambut si nita. Semakin kencang si nita melumat semakin kencang suara si bos mengerang ough……………………..ough……………………ehm…………….aku rasakan lendir dalam celanaku mulai mengalir karena tidak bisa menahan gejolak lelakiku yang semakin menonjol.

Udah di rasa cukup si bos mulai membuka celana dalam si nita dan segera memasukkan burungnya yang lumayan besar ke dalam memek si nita, sambil menciumi si nita dan melumat bibirnya si bos mengerakkan burungnya ke luar masuk memek si nita dan semakin keras aku lihat si bos mengerakkan burungnya keluar masuk sampai sampai si nita terengah-engah di buatnya ough……………………ah………………….ough……….dan aku perhatikan si bos mulai enjakulasi……………….dan ough…………………ough………………sambil mengeluarkan burungnya dari memek si nita yang berisi itu.

Aku pelan-pelan turun dari kursi dan kembali ke dalam ruangan karena aku yakin si nita sebentar lagi pasti ke luar untuk menuju ke ruangannya juga setelah merapikan bajunya. Dan aku mulai memutar lagu di komputerku dan mulai mengakses internet untuk melihat facebook aku, biar tidak ada orang yang tahu atas peristiwa ini. Dan aku perhatikan benar juga si nita mulai ke luar dari kamar mandi dan langsung menuju ke arah ruangan aku karena memang tempat duduknya di sebelah aku persis. Dan si anita mulai menyapa aku dengan genitnya “Nggak seperti biasanya nih mas………berangkatnya kok agak pagi” sambil badannya di sentuhkan ke tubuhku yang duduk di kursi dan sambil melihat facebook aku. Ya nih soalnya tadi aku mengantar istriku dulu jawabku singkat dan dia menimpali lagi ucapanku “Lha memangnya kenapa istri kamu” Tanya si nita sambil masih berlendotan di tubuhku dan memang aku rasakan badannya masih terasa panas. Dan aku pura-pura tanya pada dia, kok tubuhmu panas sakit ya nit tanyaku. “Ya mas agak meriang tadi malam sakit” jawabnya sambil matanya menyelidik ke arah mataku aku cuma tersenyum melihat matanya. Yang bener aja jawabku mengodanya………dan si nita malah cubitin tubuhku terus……..sambil menanya terus sama aku……emangnya kenapa aku kok nggak percaya. Kalau seandainya si bos nikah lagi siapa ya yang cocok tanyaku sama nita dan si nita semakin penasaran sama aku karena begitu dalamnya aku tahu tentang rahasianya. Dan matanya semakin melotot dan agak serius sama aku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku “Mas kamu kok tahu dari mana ?!” tanya si nita. Aku tahu sendiri dan memakai dua mataku jawabku sambil memandang wajah si nita ke atas karena emang dia masih menempelkan tubuhnya di tubuhku. “Yang bener” kata si nita berbisik di telingaku. Bener sambil aku menyuruh dia duduk di kursi sebelah aku , tadi kamu main sama si bos di ruangannya kan ?!. Si nita cuma senyum-senyum sambil malu padaku, “jangan bilang siapa-siapa lho mas” bisik si nita lirih. Nggak usah khawatir asal kamu tahu sendiri jawabku sambil berdiri dan keluar kantor untuk merokok………

Cerita Seks Memperkosa Body Mulus Diah Kasir Toko Swalayan

Diah yang masih berumur 23 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada yang beroperasi 24 jam di Jakarta. Tapi karena  semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa kuatir melihat putriya sering mendapat giliran jaga di malam hari hingga pagi hari. 

Cerita Seks Memperkosa Body Mulus Diah Kasir Swalayan Toko
Cerita Seks Memperkosa Body Mulus Diah Kasir Swalayan Toko

 Memperkosa Body Mulus Diah Kasir Swalayan Toko


Diah lebih suka bekerja pada shift di jam tersebut, Karena dari saat tengah malam sampai pagi biasanya  jarang sekali ada pembeli, sehingga Diah bisa belajar untuk materi kuliahnya siang nanti. Sampai akhirnya pada suatu malam terjadilah pemerkosaan itu, Diah mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong (sebut saja Gading) , dan yang satu lagi tubuhnya Kurus (sebut saja si Karjo ). Mereka berdua, menerobos masuk membuat Diah yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut.

“Keluarin uangnya cepet !” perintah si Gading, sementara si Karjo memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Diah gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat, 

Diah berhasil membuka laci itu dan memerikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Gading, Diah tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Gading merampas uang itu, Diah langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.
“Masa cuma segini?!” bentak si Gading.

“Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Diah masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Diah mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

“Cepat!!!” bentak si Karjo, 
Diah merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Diah berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Diah yang ketakutan, mereka berdua percaya.

 “Brengsek!!!! Nggak sebanding sama resikonya! Ayo...Iket dia, biar dia nggak bisa panggil polisi!!!” Diah di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Diah juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Karjo kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Diah.

“Beres! Ayo cabut!”
“Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.
“Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.
“Aku pengen liat bentar aja!”.

Mata Diah terbelalak ketika si Gading mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Diah yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Diah meronta-ronta dalam ikatannya.
“Wow, oke banget!” si Gading berseru kagum.
“Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Karjo, tidak begitu tertarik pada Diah karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.

Tapi si Gading tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Diah lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Diah. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Diah ditariknya, tubuh Diah ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Diah terputus dan sekarang payudara Diah bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.

“Jangan!” teriak Diah. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Diah mulut si Gading menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Diah menjerit ketika si Gading mengigit puting susunya.

“diam! Jangan berisik!” si Gading menampar Diah, hingga berkunang-kunang. Diah hanya bisa menangis.
“Aku bilang diam!”, Sambil berkata itu si Gading menampar buah dada Diah, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Diah. Kemudian si Gading bergeser dan menampar uang sebelah kanan. Diah terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Gading terus memukuli buah dada Diah sampai akhirnya bulatan buah dada Diah berwarna merah.

“Ayo, cepetan !”, si Karjo menarik tangan si Gading.
“Kita musti cepet minggat dari sini!” Diah bersyukur ketika melihat si Gading diseret keluar ruangan oleh si Karjo. Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Diah bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Diah berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

“Hey, Brooo! Tokonya kosong!”.
“Masa, cepetan ambil permen!”.
“Goblok Banget lo, cepetan ambil bir tolol!”.

Tubuh Diah menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Diah mengeluarkan suara minta tolong.

“ssssstt! Lo denger nggak?!”.
“Cepetan  kembaliin semua!”.
“Ayooo....lari, lari! Kita ketauan!”.
Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Diah, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.
“Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.
“Hei, liat nih! Ada kejutan!”

Diah berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester. Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Diah, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

“Gila! Cewek nih!”.
“Dia telanjang!”.
“Tu liat susunya! susu!”.
“Mana, mana Aku pengen liat!”.
“Aku pengen pegang!”.
“Pasti alus tuh!”.
“Bawahnya kayak apa yaaa?!”.

Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Diah yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Diah, tangan-tangan meraih tubuh Diah. Diah tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Diah.

“Ayooo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka k emudianmelepaskan ikatan pada kaki Diah, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Diah. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Diah keluar menuju bagian depan toko. Diah meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya. 

Mereka menarik-narik jeans Diah sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Diah terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Diah sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Diah merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Diah melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

“Hei....Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Diah. Diah berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Diah.

“Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Diah berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Diah berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”

Langsung saja Diah mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Diah hingga berbaring telentang di atas meja. 

Pertama ia melepaskan tangan Diah kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Diah sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Diah dan mengikatkan kaki-kaki Diah ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Diah berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

“Waktu Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Diah terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Diah dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.

“Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Diah. Diah melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk. Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Diah, membuat Diah sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Diah ditariknya hingga lepas. Diah berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya. 

Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Diah. Pandangan Diah langsung berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba saja mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit sekali . Semprotan demi semprotan masuk ke mulut Diah, tanpa bisa dimuntahkan lagi oleh Diah. Ia terus menelan cairan tadi agar bisa terus bernafas.

Tiba-tiba saja Berandal yang duduk di atas dada Diah turun, lalu berandal memasukkan penisnya ke vagina diah dan mendorong diah di pinggir meja lalu menggenjot memek Diah Dengan tempo makin cepat. Ia juga memukuli perut Diah, membuat Diah mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Diah sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks. 

Tangannya langsung meremas dan menarik buah dada Diah ketika tubuhnya bergetar dan sperma tiba-tiba menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Diah. Sedangkan berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, Dan ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Diah.

Beberapa saat berlalu dan Diah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya. Diah meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Diah berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi nih.

“Wah, wah, waaaaah!!!” terdengar suara laki-laki yang berdiri di pintu depan. Diah sangat terkejut dan berusaha menutupi buah dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.
“Tolong saya!” ratap Diah.
“Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa Pak! Tolong saya Pak, cepat panggilkan polisi!”
“Nama lu Diah kan?” tanya laki-laki tadi.

“Ba...bagaimana bapak tahu nama saya?” Diah bingung dan takut.
“Aku Adit. Orang yang dulunya kerja di toko ini sebelum kau rebut!”.
“Tapi saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahunya dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolonglah saya pak!”.
“Gara-gara kamu ngelamar ke sini Aku jadi dipecat! Aku nggak heran kamu diterima kalo liat bodi mu”.

Diah kembali merasa ketakutan saat melihat Adit, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Diah kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Diah dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Diah betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Diah kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

“Lepaskan!!!! Sakit!!!! aduuhh!!!! Saya tidak memecat bapak!!!! Kenapa saya diikat Pak?!!”
“Sebenarnya Aku tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya Aku udah keduluan. Jadi baiknya Aku rusak aja deh nih toko”.
Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Diah sehingga sekarang Diah duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Dan diikatnya lagi dengan plester.

Dan Adit mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Lalu Adit juga menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Diah. Es krim beterbangan dilempar oleh Adit. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Diah, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya. Di depan, Es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Diah. Rasa dingin langsung menempel di buah dada Diah, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Adit selesai, tubuh Diah bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

“Kamu keliatannya kedinginan!” ejek si Adit sambil menyentil puting susu Diah yang mengeras kaku.
“Aku harus ngasihh kamu sesuatu yang anget.”

Adit kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Diah melihat Adit mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap.

 “Jaaaangaann!” Diah berteriak ketika Adit membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Diah sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Diah menangis karena kesakitan akibat uap panas dari sosis tersebut.

“Keliatannya nikmat Nih....Ha..Ha...!” Adit tertawa.
“Tapi Aku lebih suka bermain dengan mustard!” Kemudian Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu. 

Cairan mustard langsung keluar menyemprot ke vagina Diah. Diah menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.
Sambil tertawa Adit melanjutkan usahanya dengan menghancurkan isi toko itu. Diah berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya sangat tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Diah bergerak lunglai jatuh.

“Hei!! Kamu kalo kerja jangan tidur!” bentak Adit sambil menampar pipi Diah.
Kamu tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

Diahpun meronta ketakutan melihat Adit yang memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya sangat  keras sekali. Adit segera mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Diah, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Diah. 

Diah menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Adit juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Diah bercucuran di pipi.
Kemudian Adit mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, lalu mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Adit hingga membuka keluar, Diah merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

“Nah.....,Hmmm... udah jadi. sekarang pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi Aku sekarang pergi dulu, terus nanti Aku pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

“Jaaaaaangan! saya mohoon! Jangan! jangan! jangan! ampun!”
Aditpun tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Diahpun menangis ketakutan, Dan puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia terlihat meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Diah berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil. 

Beberapa saat kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Diah melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Diah, telanjang dengan buah dada mengacung. Segera saja Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Si Gelandangan langsung meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

Diah langsung menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Diah menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.

Tapi Diah tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Dan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang. Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Diah merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang. Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Diah menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

“Ja...Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”
“Habisnya pantat Mbak kan belom diituin.” gelandangan itu berkata tidak jelas.
“Jangaaaaan!” Diah meronta, ketika penis si gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anusnya Diah. Lalu ia langsung berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Diah.

Diah menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Diah tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Diah bisa membesar. Setelah beberapa Lama tiba-tiba gelandangan tadi mencabut botol tersebut. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Diah, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus 

Diah yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandangan tadi mulai bergerak kesenangan, rasanya sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Diah merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju. Diah terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Diah, membuat Diah menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin. Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Diah merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Diah.

“Makasih yaaa Mbak! Saya puas sekaliiiii! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Diah. Kemudian ia mendorong Diah duduk dan kembali mengikat tangan Diah ke belakang, kemudian mengikat kaki Diah erat-erat. Kemudian tubuh Diah didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.

Sambi terus mengumam terima kasih Dan sigelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Diah terus saja menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Diah jatuh pingsan karena kelelahan dan shock Berat. Dan tersadar ketika Ia ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 7 pagi. END

Cerita Seks Pribadi Empotan Memek Pingkan Yang Binal

Cerita Mesum Empotan Memek Pingkan Yang Binal
Cerita Mesum Empotan Memek Pingkan Yang Binal


Cerita Sex - Pingkan Terlihat begitu terpesona dengan Batangku. Segera aku merenggakan sabukku sementara Pingkan sudah memainkan jarinya diantara selakangannya artinya dia sudah menungguku untuk bermain dengannya langsung saja aku melepaskan kancing celanaku yang sudah tegang oleh penisku, dan ternyata Pingkan belum melepaskan celana dalammnya, kita sudah janji sebelumnya untuk melepaskan bersama sama.

“Hey! Ayoi! Kamu kan janji bersama-sama!”
“Oh, maaf. Aku lupa,” kata Pingkan sambil sorot matanya tidak lepas dari tonjolan penisku di celana dalamku.
Pingkan kemudian berbaring sambil melepas celena pendeknya melewati pinggulnya yang bulat indah. Tubuh kami berdua sekarang tinggal dibalut oleh celana dalam. Aku benar-benar kagum dengan kemulusan kulit tubuhnya bagaikan kulit bayi, kuning kemerahan dan halus sekali.

“Siap,” kata Pingkan.
“OK,” kataku mantap.
Aku benar-benar sudah tidak sabar lagi melihat tubuh seorang gadis yang telanjang bulat di depanku. Dan… Hal itu benar-benar menjadi kenyataan ketika Pingkan pelahan-lahan melepas celana dalamnya, bersamaan dengan kuturunkan celana dalamku melewati kakiku.

Dan kemudian kami berdua sama-sama terbengong-bengong melihat tubuh telanjang di depannya. Kulit tubuh Pingkan benar-benar mulus, lekukan tubuhnya benar-benar mempesona. Ketika sudut mataku melihat ke Pingkan, kulihat wajahnya merah padam dan sorot matanya menjelajahi seluruh tubuhnya.

Sepertinya wajahnya jadi semakin cantik dan oohhh… Sepasang bukit dadanya benar-benar mengagumkan dan menggetarkan hatiku, tapi… Bagian bawahnya… Kulihat rambut kecil-kecil halus berwarna pirang menutupi cembungan dipangkal pahanya. Tapi tidak ada lagi yang bisa kulihat, sepertinya semuanya tersembunyi dibalik rambut halus itu.

“Wow,” seru Pingkan.
“Berbaringlah terlentang, aku ingin bisa melihatnya dengan jelas.”
Aku tidak bisa menolaknya, aku terlentang sambil memperhatikan Pingkan. Dia bergeser mendekati diriku. Sepasang bukit dadanya ikut bergoyang, pemandangan yang menakjubkan sekali. Aku tidak memperhatikan tangannya sampai ketika jari-jarinya mengelus batang penisku dengan lembut.

“Oh besar sekali, keras, tapi kulitnya lembut sekali.” kata Pingkan sambil tangannya menjelajahi seluruh bagian penisku, meremas dan mengusap-usapnya dengan lembut.
“Ouchh!” erangku. Sepertinga tubuhku melambung tinggi…
“Benar-benar luar biasa,” desis Pingkan benar-benar terpesona menyaksikan penisku yang tegang kukuh dan keras.

Kurasakan jari-jari Pingkan mengocok-kocok batang penisku naik turun dengan penuh gairah. Aku tidak pernah melihat penisku menjadi sebesar itu, sepertinya penisku telah mengembang secara maximum. Mataku tertutup rapat-rapat… Mulutku mendesah-desah tanpa dapat kukendalikan lagi,
“Ooohhh… Aaahhh…” aku benar-benar tidak pernah merasakan senikmat ini.
“Kau senang aku beginikan?” bisik Pingkan dengan suara genit.

Gerakan tangannya naik-turun semakin cepat sampai pinggulku terangkat-angkat menahan nikmat dan geli luar biasa. Akhirnya aku tak dapat menahan lagi, dengan diiringi teriakkan nyaringku, spermaku meledak dan menyembur kuat keudara beberapa kali. Inilah untuk pertama kalinya aku mengalami orgasme.

Pingkan juga berteriak tertahan dan meloncat menjauhiku, gadis ini benar-benar terkejut melihat spermaku yang begitu dasyat menyembur keudara dan sebagian jatuh menimpa tangan, paha dan dadanya. Beberapa saat aku terkulai lemas. Sepertinya aku sempat tak sadar beberapa detik. Begitu pula Pingkan, gadis ini terbengong-bengong melihat kejadian yang benar-benar tak pernah terbayangkan olehnya.

“Apa… Apa yang terjadi??” kata Pingkan terbata-bata.
“A… A… Aku tidak tahu. Aku tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya.” kataku tergagap-gagap.
Setelah berpikir beberapa saat Pingkan berkata pelan.
“Aku tahu. Kau mengalami orgasme.” katanya sambil mengusap-usap cairan kental spermaku yang berhamburan kemana-mana.
“Ini adalah sperma. Tapi aku benar-benar tidak menduga proses keluarnya begitu luar biasa.”
“Yeah, memang sangat luar biasa. 

Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan sulit kugambarkan.” kataku.
Pingkan tertawa genit.
“Itu karena aku! Aku yang membuatmu sampai orgasme! Tadinya aku khawatir, kau mengerang-erang seperti kesakitan.”
“Yeah. Benar-benar luar biasa. Jari-jari tanganmu juga luar biasa” kataku sambil melihat tubuh moleknya yang telanjang bulat. Dan akupun tak ingin membuang tempo lagi.

“Hey. Sekarang gantian aku!! Cepat kamu berbaring” kataku.
“Tapi… Tapi kau pelan-pelan ya??” kata Pingkan.”Aku takut.”
OK, jangan khawatir, aku tak akan menyakitimu.”
Ya Tuhan, inilah hari bersejarahku sebagai seorang laki-laki. Dihadapanku berbaring terlentang sesosok tubuh gadis yang luar biasa cantiknya telanjang bulat. Mataku benar-benar termanjakan dengan pemandangan yang benar-benar menakjubkan.

Pelahan-lahan kuusap cairan spermaku yang menempel di bukit kecil di dada Pingkan. Tanganku sampai gemetaran meraba kulit kenyal dan halus di sepasang bukit indah itu. Puttingnya yang kecil jadi mengeras ketika tanganku mengelus-elusnya. Apalagi ketika putting itu kepegang dan kupilin-pilin lembut, Pingkan mengerang lembut. Hatiku sampai berdesir mendengar erangan aneh itu. Sepertinya mengandung kekuatan magis yang membangkitkan kembali gairahku.

Kuturunkan tanganku menelusuri perutnya kebawah sampai daerah pangkal pahanya. Kuusap-usap rambut halus pirang disana. Rambut yang panjangnya sekitar 1/4 inci itu sangat lembut. Aku tidak menduga didaerah itu bisa tumbuh rambut. Ujung jariku kususupkan ke celah-celah yang membelah vertikal gundukan kecil di pangkal pahanya. Daerah itu ternyata basah oleh cairan lendir.

“Buka lagi pahamu, aku tidak bisa melihat apa-apa disini.”
Ketika Pingkan membuka lagi pahanya, tampaklah celah-celah yang berwarna pink yang mengkilat basah oleh cairan lendir.
Wow!!!…”
Benar-benar pemandangan yang luar biasa, aku tidak pernah membayangkan seperti itu bentuk vagina seorang gadis. Kudekatkan wajahku agar bisa melihat lebih jelas daerah misterius yang sudah lama ingin kulihat.

Kucium aroma khas yang segar dan juga cukup harum. Kukita Pingkan sangat rajin membersihkan daerah itu. Tapi kembali aku tak bisa melihat apa-apa selain celah vertikal yang tertutup. Dengan hati-hati kususupkan jari-jariku kebibir vertikal yang cukup tebal itu, kurasakan kebasahan dan kehangatan didaerah itu.

Pinggul Pingkan terjungkit-jungkit setiap kali kugosok celah-celah itu, bibirnya setiap kali juga mengeluarkan desahan-desahan aneh yang merangsang pendengaran, apalagi ketika ujung jariku menyentuh tonjolan clitorisnya.

Sepertinya daerah tersebut sangat sensitif seperti juga sulit penisku, dan Pingkan juga merasakan nikmat yang tak kalah bebatnya seperti ketika Pingkan mengusap penisku. Aku jadi semakin bersemangat menggerakkan jariku menyusuri celah-celah itu.

Akhirnya mataku melihat lubang kecil berwarna merah muda dibawah tonjolan clitorisnya. Dari lubang itulah cairan bening itu keluar. Lubang itu cuma sebesar ujung jari kelingkingku. Aku yakin itulah yang disebut vagina yang tadi ditunjuk oleh Pingkan, dan di buku dikatakan bahwa penis dimasukkan ke lubang itu.

Tapi koq begitu kecil? Kumasukkan ujung jariku ke lubang itu, terasa hangat dan ketika kugerak-gerakkan tiba-tiba aku sangat terkejut, sepertinga ujung jariku terhisap oleh lubang itu. Aku jadi penasaran sekali, ketika akan kumasukkan lagi tiba-tiba Pingkan membentakku.

“Hey! Apa yang kamu lakukan?!” katanya sambil melompat ketika ujung jariku kumasukkan lebih dalam.
“I just want to see what it feels like.”, I said, still pushing. Now, it was past the first knuckle.
“Aku hanya ingin tahu lubang apa itu.”, kataku sambil terus mau memasukkan ujung jariku lagi.
“Cut it out!” she was squirming. I kept pushing. She moaned and said again, but more softly,
“Keluarkan cepar keluarkan.” kata Pingkan panik.
Ujung jariku seperti menabrak suatu dinding dan ketika kudorong lagi.

“Auw.. aduh stop!!” Jerit Pingkan kesakitan. Dengan gugup kutarik ujung jariku keluar lubang kecil dan sempit itu.
“Itukan lubang dimana penis dimasukkan bukan??” kataku mencari kepastian.
“Mungkin.”
I started pushing my finger into her again,”Does it feel like a penis?”
Aku memulai mendorong lagi jariku ke dalam lubang itu,

“Apakah seperti dimasukkan penis?” tanyaku lagi. Pinggul Pingkan kembali menggeliat-geliat.
“Aduuhhh stop, stop please!” Rintih Pingkan.
Aku ingat ketika singa jantan memasukkan penisnya kevagina singa betina. Tapi Pingkan sepertinya merasa kesakitan dan keenakan sekaligus.

Kini jariku kugerakkan keluar masuk. Lubang itu begitu sempit dan ketat menjepit ujung jariku. Cairan lendir semakin banyak keluar. Kulihat Pingkan tidak lagi kesakitan, cuman mulutnya tak henti-hentinya mendesis keenakan dan tubuhnya menggeliat-geliat begitu menggairahkan… Sampai tiba-tiba tubuhnya menggigil dan mengejang,

“Aaahhh… Ooohhh,” jeritnya nyaring sambil menarik tanganku dari liang itu.
“Apa yang terjadi???” tanyaku keheranan.
“Entah, ahhh.” Desah Pingkan dengan nafas tersegal-segal.
“Mungkin aku orgasme,” bisik Pingkan sambil tersenyum manis sekali.
“Ohhh, kupikir memang benar penis harus dimasukkan ke lubang itu,” kataku, “Tapi aku tidak yakin lubang itu terlalu kecil untuk ukuran penis.”

“Kenapa tidak?” kata Pingkan sambil melihat penisku yang mulai membesar dan menegang lagi.
Penis terlalu besar. Ujung jariku saja sudah sulit masuk, apalagi penis yang ukurannya jauh lebih besar dan panjang.”
Pingkan meraih kembali penisku.
“Yeah aku tahu maksudmu.”

Dia memperhatikan penisku dengan seksama sambil mengusap-usapnya. Sepertinya dia sangat sangat tertarik dan menyukai penisku itu, seperti barang antik yang sangat berharga.
“Jika tidak cukup, paling tidak kita bisa mencobanya untuk meyakinkan samapi sejauh mana.” kata Pingkan sambil melirik ke arahku, senyuman genis tersungging dibibirnya.
“Apa kau pikir cukup aman?” tanyaku ragu-ragu. Tentunya aku sangat senang melakukannya, tapi aku khawatir Pingkan akan kesakitan.

Pingkan kembali berbaring terlentang dan pahanya dibuka lebar.
“Yakin. Bila tidak muat dimasukkan ke dalam milikku, maka kita akan mencari cara lainnya. Apapun juga kamu bisa ejakulasi, dan itu tidak akan menbuatku hamil karena tidak masuk ke dalam.”
Aku segera menempatkan pinggulku diantara kedua pahanya. Terasa hangat, basah dan lembut. Kugerak-gerakkan ujung penisku untuk menemukan lubang itu, begitu menyentuh lubangnya, kutekan sedikit, kemudian kugerakkan pinggulku sambil terus menekan.

Sepasang bukit dadanya mengeras, putingnya menusuk dadaku. Kedua tangannya merangkul leherku. Kami kembali berciuman. Tubuh kamu saling menekan dan menggesek.
Pingkan ketawa genit sambil berbisik, “Aku sangat senang kamu ada disini, dalam posisi seperti ini,” katanya sambil memelukku dengan mesra sekali.

Kami terus saling menggesek dan menekan, tangan kami juga saling mengelus dan meremas-remas. Nafas kami semakin cepat dan tubuh kami juga semakin panas, peluh kami mulai membasahi tubuh kami. Ini benar-benar luar biasa. Gesekan-gesekan itu demikian nikmatnya. Tapi usaha penisku untuk masuk ke lubang itu selalu gagal.

“Masih belum bisa masuk?” Bisik Pingkan.
“Coba kutekan agak keras lagi,” kuangkat sedikit pinggulku, kemudian kutekan keras, tapi ternyata malah meleset kesamping.
“Uhhh…” desis Pingkan.
“Coba kubantu,” bisik Pingkan sambil tangannya meraih batang penisku, kemudian ditempatkan tepat di gerbang liang vaginanya.
“Tekan!!” kata Pingkan.

“Yeah,” kataku sambil menekan pinggulku cukup kuat.
Kuangkat sedikit lagi, kembali kutekan lebih keras sambil tangan Pingkan mengarahkan penisku. Kurasakan liang itu semakin mengembang dan tiba-tiba sebagian ujung penisku berhasil melesak ke dalam.
“Stop!” teriak Pingkan.
“Ohhh…” keluhku, sambil menghentikan gerakanku.

Kepala penisku yang bulat sudah berhasil masuk keliang vagina Pingkan. Begitu ketatnya liang itu seperti mengunci ujung penisku.
“Ujung penisku sudah berhasil masuk,” bisikku.
“Ya, aku tahu. Aku dapat merasakannya.” kata Pingkan.
Pelahan kutarik sedikit penisku pelan-pelan, kemudian kutekan lagi dengan tekanan lebih kuat. Begitu kulakukan berulang-ulang sampai ujung penisku tiba-tiba menabrak kuat dinding penghalang disana.

“Ahhh, stop, kita sebaiknya berhenti, ohhh jangan!” kata Pingkan terbata-bata.
Meskipun mulutnya mengatakan jangan, tapi kurasakan pelukan Pingkan malah semakin erat, dan pinggulnya pun bergerak mengimbangi tusukannku.

“Kita sebaiknya berhenti… Kita, ohhh stop!” rintih Pingkan.
“Yeah.” kataku, tapi penisku tidak mau berhenti. Tekanan pinggulku makin lama makin kuat sehingga akhirnya…
“Aaahhh… ADUH!!! Ohhh… Aaahh,” jeritan Pingkan melengking kuat ketika penisku berhasil menembus benteng penghalang itu. Batang penisku tenggelam seluruhnya ke dalam liang yang sudah tidak perawan lagi, sampai bola testicle-ku menekan pangkal pahanya. Jeritan Pingkan dan cengkeraman kukunya mencengkeram kuat di pundakku dan pahanya memeluk kuat kuat pinggulku membuatku benar-benar terkejut.

“Aduh! stop, stop!” jerit Pingkan.
Kurasakan jepitan liang vagina Pingkan yang begitu kuat dan ketat sekali, kurasakan juga denyutan-denyutan dinding liang itu seperti menyedot penisku, dan kurasakan kehangatan disana.
“Pingkan. Penisku sudah masuk semua.” kataku sambil terengah-engah.
“I can tell. It hurt. A lot.”
“Aku bilang stop! Sakit sekali tahu!” bentak Pingkan. Kulihat wajahnya merah padam dan air matanya mengalir membasahi pipinya.

“Maafkan aku Pingkan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku.”
“OK. Bisa kamu tarik keluar sekarang?”
“OK…” Aku cabut penisku pelan-pelan, Pingkan merintih, kutekan lagi pelan-pelan dan kembali kutarik lagi sedikit. Kurasakan sesasi gesekan antara penisku dan dinding liang vagina Pingkan begitu luar biasa nikmatnya. Tubuhku sampai menggigil menahan geli dan nikmat yang teramat sangat.

“Pingkan, sebaiknya jangan dilepas,” bisikku.
“Ya, aku tahu…” desah Pingkan sambil menggerakkan pinggulnya keriri-kanan mengikuti gerakan pinggulku. Tangan Pingkan kembali memelukku erat-erat. Seperti juga aku, sepertinya Pingkan juga merasakan sensasi kenikmatan yang sangat luar biasa.

Dia ingin menghentikannya, tapi kenikmatan itu sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Dan tiba-tiba kembali tubuh Pingkan mengejang sambil mengerang cukup keras, ketika Pingkan mencapai orgasmenya yang kedua kali. Pingkan sepertinya mengatakan sesuatu kepadaku, tapi tidak jelas, akhirnya ia menggigit pundakku.

Diding liang vaginanya berdenyut-denyut kuat, membuat penisku tersedot-sedot dan sepertinya aku juga tidak kuat lagi menahan diri. Kutekan penisku dalam-dalam dan…
“Aaahhh…” spermaku menyembur kuat berkali-kali didasar liang vagina Pingkan.
Entah berapa lama kami terkulai sambil berpelukan, penisku masih tertanam diliang vagina Pingkan…

Ketika kami sadar, segera kutarik penisku yang sudah mengecil itu. Kulihat cairan spermaku bersama cairan vagina Pingkan berhamburan dimana-mana. Dan cairan itu berwarna merah… Memang benar-benar darah Pingkan yang bercampur cairan sperma.
“Ya ampun, Pingkan, aku benar-benar melukaimu, maafkan aku Pingkan,” seruku panik.
“Ohhh tidak!” jerit Pingkan sambil melihat ke vaginanya.
“Kamu ejakulasi di dalam lubang vaginaku!! Kau masukkan spermamu di dalam! Aduh, kamu bisa membuatku hamil!!!”

Cepat-cepat kuperiksa vagina Pingkan. Tidak kelihatan ada luka disana, tapi darah keluar dari liang vaginanya. Aku yakin, pasti bagian dalam liang vagina itu ada yang luka.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidak menceritakan kepada orang lain kalau Pingkan sembuh nanti. Kami cuman bisa menunggu untuk melihat apakan Pingkan hamil atau tidak. Kami segera berpakaian dan aku segera lari pulang kerumah. Sampai beberapa minggu kami berdua dihinggapi perasaan takut. Dan Pingkan pun sepertinya takut untuk menemuiku. Dia selalu menghindar kalau melihatku.

Kami memang tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada orang lain, dan kami juga tidak pernah melakukan hubungan sex lagi, tapi kami masih berteman sampai beberapa tahun, sampai akhirnya aku pindah ke Denver. Tapi aku tidak pernah melupakan hari bersejarah yang sangat menakjubkan itu!! END
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. male-celebs-clips.blogspot.com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger